Blog Niezam Phg

Ada kalanya Allah memberikan kesenangan kepada kita bukan untuk menyenangkan kita, tetapi supaya kita dapat menjadi orang yang menyenangkan orang lain....semoga saya mampu menyenangkan anda ketika di teratak ini...

Thursday, October 11, 2007

Salam Lebaran dari Niezam Phg


kad di cilok dari http://www.reezluvdesign.com


Niezam Phg says..

Lebaran kali ini saya akan bercuti mulai 11 oktober hingga 21 oktober. tidak ada update sepanjang tempoh tersebut kerana saya berada di kampung [pahang laaaa ]. Di kesempatan ini saya menyusun sepuluh jari memohon ampun dan maaf lahir batin dari pengunjung setia dan pengunjung tak setia teratak ini jika sekiranya selama saya berpengalaman bersama anda selama ini saya ada tersalah tuturkata, terguris yang menyebabkan anda terasa dan berbagai bagai TER lagi yang saya lakukan maka ampunkan lah saya kerana saya hanyalah insan biasa yang tidak mampu mengelakkan diri dari melakukan kesilapan.....akhir kata SELAMAT HARI RAYA MAAF ZAHIR BATIN...semoga anda semua selamat sampai ke destinasi masing masing dan kita bertemu lagi di ruang lingkup maya ini di lain kali...pandu cermat jiwa selamat..ingatlah orang yang tersayang dan yang menyayangi diri anda..anda mampu mengubahnya...[ sikap memandu tu..bukan mengubah kasih sayang tu!!! jgn salah faham pulak..]

Labels:

2 Comments:

  • At October 22, 2007, Anonymous Anonymous said…

    Debat Antara Yang Mulia Ayatollah Montazeri dan Ali Sina

    Di Bulletin Board of Jebhe Melli (Gerakan Nasional Demokrasi Iran) aku menanyakan beberapa pertanyaan tentang Islam. Ayatollah Montazeri menjawab beberapa pertanyaanku. Berikut adalah terjemahan suratnya dan jawabanku padanya.

    Ayatollah Montazeri adalah imam senior dari Iran yang tadinya dipilih oleh Khomeini untuk menjadi penggantinya. Tapi pandangan Montazeri yang liberal membuat Khomeini marah dan dia pun disingkirkan. Di tahun2 ini, Ayatollah Khamanei, pengganti Khomeini, menjatuhkan hukuman tahanan rumah bagi Ayatollah Montazeri. Tuan Montazeri masih merupakan tokoh oposisi dari Pembaharuan Islam yang percaya pada Islam tapi tidak percaya pada Velayate Faghih. Beliau adalah pemimpin agama yang paling dihormati di Iran.

    Usia muda Ayesha

    Pertanyaan no. 1

    Muhammad menikahi Ayesha pada waktu ia berusia 6 tahun dan menidurinya pada ia berusia 9 tahun. Bagaimana mungkin lelaki berusia 54 tahun memanggil dirinya utusan Tuhan punya nafsu berahi pada gadis berusia 9 tahun?

    1- Ayatollah Montazeri

    Pada saat itu, tradisi perkawinan berdasarkan kebiasaan2 dan upacara2 suku daerah. Tujuan pernikahan ini hanyalah untuk memperkuat persahabatan antara ayah dari pengantin dan karena itu perkawinan antara Sang Nabi dengan Ayesha berdasarkan alasan politik.

    Tanggapan A Sina.

    Ini bukan alasan yang bagus untuk mengawini anak di bawah umur. Aku tidak merasa terganggu dengan pernikahan Nabi dan anak Abu Bakr, tapi kenyataannya adalah Ayesha itu anak kecil. Sungguh tidak layak bagi utusan Tuhan untuk punya nafsu berahi pada anak kecil dan itu merupakan sikap rendah akhlak. Di zaman ini jika seorang pria berusia 54 tahun berhubungan kelamin dengan anak kecil 9 tahun, ia akan dipenjara dan dibenci sebagai fedofilia. Kenapa Nabi harus dimaafkan?

    2. Ayatollah Montazeri.

    Sang Nabi di usia 25 tahun menikahi Khadijah, wanita yang berusia 40 tahun dan Nabi tidak menikahi wanita lain selama Khadijah hidup. Jika Nabi adalah orang yang haus sex, maka ia tidak akan menikahi seorang wanita yang lebih tua dan setia padanya sampai ia mati.

    Sina:

    Khadijah itu wanita kaya raya dan Nabi saat itu hanyalah pegawainya yang miskin. Baginya, menikahi seorang wanita kaya adalah tangga ke atas untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi. Di umur itu, ia hanyalah seorang anak yatim piatu dengan ambisi kecil. Karena ia hanyalah seorang anak muda miskin, tidak ada yang menaruh perhatian padanya. Khadijah adalah anugrah baginya. Khadijah menyediakan kenyamanan dan kemapanan sehingga ia tidak usah khawatir dalam masalah keuangan. Sekarang ia bisa bertapa di guanya dan membiarkan imajinasinya terbang; ketemu jin, bertempur dengan setan, ngobrol dengan Jibril, dan segala macam makhluk yang menghantui pikirannya yang suram.

    Kalau ia tetap setia pada Khadijah bukanlah karena ia suci atau setia tapi Khadijah seorang wanita yang berkuasa dan tidak akan toleran kalau suaminya serong. Pada saat itu Muhammad tidak punya pengikut dan ia akan kehilangan semuanya jika ia menyinggung perasaan istrinya yang kayaraya. Kalau ini sampai terjadi, ini akan menghancurkan segalanya bagi Muhammad.

    Akan tetapi, Muhammad menunjukkan belangnya yang asli kala ia jadi orang yang berkuasa dan tak ada yang dapat mengekangnya untuk melakukan hal2 yang ia sukai. Pada saat itulah ia membuang semua norma2 kebajikan dengan memakai selubung nama Allah-nya.

    3- Ayatollah Montazeri.

    Tujuan sang Nabi menikahi begitu banyak wanita2 tua dan janda2, terpisah dari alasan2 sosial politik, adalah untuk menaikkan status sosial mereka. Pada zaman itu, para wanita, terutama budak2 wanita, hanya pula nilai moral yang kecil atau malah tidak ada sama sekali sehingga mereka sampai2 mengubur bayi2 perempuannya hidup2.

    Sina.

    Sang Nabi menikahi Khadijah, seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, adalah karena kekayaan Khadijah. Setelah Khadijah meninggal, ia menikahi Ayesha yang baru berusia 6 tahun dan karena permintaan Abu Bakr untuk tidak menidurinya dulu sampai 3 tahun setelah menikah. Selama tiga tahun ini Muhammad butuh seorang wanita dan para wanita non-Muslim tidak ada yang mau mengawininya karena mereka menduga ia orang gila. Diantara pengikutnya yang masih sedikit itu, hanya tersedia sedikit wanita2 yang dapat dikawininya. Sauda adalah wanita Muslim dan seorang janda. Dia cocok untuk keadaan saat itu. Dia dapat menghangatkan ranjang Muhammad dan mengurus rumah dan keperluannya. Muhammad menikahinya dua bulan setelah kematian Khadijah. Khadijah dan Sauda hanyalah dua istri Muhammad yang dikawininya bukan karena dorongan nafsu berahi, tapi karena keadaannya saat itu. Hafza, anak Omar yang mungkin juga tidak begitu cantik seperti yang dinyatakan oleh ayahnya sendiri, dan sang Nabi mungkin mengawininya untuk menyenangkan Omar dan untuk alasan2 politis. Istri2 lainnya semuanya adalah perawan2 dan janda2 yang cantik. Kebanyakan, meskipun tidak semuanya, adalah para remaja. Nabi mengawini mereka atau meniduri mereka tanpa mengawininya hanya karena penampilan mereka yang menarik. Kadang2 ia harus membelokkan beberapa aturan dan bahkan membawa nama Tuhan untuk mengungkapkan firman baru baginya sendiri untuk mengizinkan dirinya mendapat apa yang diingininya. Contohnya di kasus Zaenab Bent Jahsh, Maryah dan Ayesha. Tidak ada satupun istrinya yang menderita kurang gizi atau janda2 yang miskin dan kesepian sebelum dinikahi olehnya. Kisah2 Safiyah, Maryah, dan Zaenab adalah kisah2 cinta yang dibumbui nafsu berahi, pengkhianatan, dan kejahatan.

    Engkau betul waktu menyatakan keadaan para budak2 wanita yang parah di zaman itu, tapi engkau lupa mengungkapkan bahwa banyak dari budak2 wanita ini yang tadinya adalah orang2 merdeka sebelum Nabi mengambil kemerdekaannya dan menurunkan derajat mereka jadi budak2. Apakah engkau mengatakan bahwa budak2 wanita ini seharusnya berterima kasih pada sang Nabi yang membunuh orang2 yang mereka cintai dan menjual diri mereka di pasar2 perbudakan untuk seorang Muslim yang lalu menggunakan mereka sebagai pelayan dan budak nafsu berahi?


    4- Ayatollah Montazeri

    Pernikahan sang Nabi dengan Ayesha terjadi di kira2 tahun pertama atau kedua Hijra dan karena paksaan ayah Ayesha yakni Abu Bakr dan beberapa kawannya. Setelah kematian Khadijah, sang Nabi tetap sendirian selama beberapa saat. Alasan satu2nya menikahi Ayesha adalah karena alasan politis. Alasan pernikahan ini karena sang Nabi di bawah tekanan2 berat dari para musuhnya seperti Abu Lahab dan Abu Jahl dan Nabi sangat bergantung pada perlindungan suku2 lain. Abu Bakr punya pengaruh daerah yang kuat. Dalam keadaan seperti itu, adalah tidak bijaksana bagi Nabi untuk menolak tawaran Abu Bakr. Pada kenyataannya, pernikahan ini adalah simbol dan bukan untuk memuaskan nafsu sex sang Nabi, karena aturannya seorang pria 53 tahun tidak mungkin punya gairah seksual terhadap anak berusia 9 tahun.


    Sina

    Sang Nabi tidak menikahi Ayesha bukan karena paksaan ayahnya. Banyak Hadith yang menunjukkan bahwa Nabi-lah yang bernafsu terhadap Ayesha dan meminta Abu Bakr untuk menyerahkan anaknya yang masih berusia 6 tahun itu untuk dinikahi. Malah sebenarnya Abu Bakr kaget sekali atas permintaan itu. Dia menolaknya dengan alasan dia adalah saudara angkat sang Nabi, yang dengan sendirinya membuat pernikahan seperti itu haram. Tapi Nabi menolak alasan Abu Bakr dengan berkata bahwa mereka bukan saudara sedarah dan sumpah persaudaraan mereka tidak dapat diterapkan di kasus ini.

    Sahih Bukhari 7.18
    Dinyatakan 'Ursa:
    Sang Nabi meminta Abu Bakr untuk menyerahkan Aisha untuk dinikahi. Abu Bakr berkata,”Tapi engkau saudaraku.” Nabi berkata, ”Engkau saudaraku dalam agama Allah dan BukuNya, tapi ia (Aisha) adalah sah untuk dinikahiku.”

    Orang2 Arab waktu itu masih primitif dengan sedikit aturan2 yang harus ditaati. Tapi mereka punya kode etik yang dihormati dengan cermat. Contohnya, meskipun mereka berperang sepanjang tahun, mereka menghilangkan semua permusuhan di beberapa bulan suci dalam tahun itu. Mereka juga menganggap Mekah adalah kota suci dan tidak berperang terhadapnya. Istri dari anak angkat seorang pria akan dianggap sebagai menantu wanitanya dan pria itu tidak akan menikahi menantu wanita itu. Adalah suatu kebiasaan untuk membuat sumpah persaudaraan dan menganggap satu sama lain sebagai saudara kandung. Sang Nabi melecehkan semua aturan2 ini setiap kali aturan2 ini menghalangi keinginannya.

    Abu Bakr dan Muhammad sudah bersumpah untuk menjadi saudara bagi satu sama lain. Jadi berdasarkan adat mereka, Ayesha seharusnya sudah seperti keponakan bagi sang Nabi Suci. Tapi inipun tidak menghentikannya untuk menikahinya walaupun Ayesha masih berusia 6 tahun.

    Tapi Nabi yang berubah-ubah moralnya tergantung keadaan ini menggunakan alasan yang sama untuk menolak menikahi anak Hamza, yang juga merupakan saudara angkat Nabi, karena anak perempuan Hamza tidak begitu cantik.

    Sahih Bukhari V.7, B62, N. 37
    Dinyatakan Ibn 'Abbas:
    Dikatakan pada sang Nabi,”Maukah engkau menikahi anak perempuan Hamza?” Nabi menjawab,”Dia adalah keponakan angkatku (anak saudara angkatku[/i]).”

    Di Hadith berikut, sang Nabi menceritakan secara rahasia pada Ayesha bahwa ia bermimpi tentang dia sebelum meminta ayahnya untuk memperistrinya.

    Sahih Bukhari 9.140
    Dinyatakan 'Aisha:
    Nabi Allah berkata padaku,”Kau ditampakkan padaku dua kali (dalam mimpiku) sebelum aku menikahimu. Aku melihat seorang malaikat membawamu dalam kain sutra, dan aku berkata padanya,’Singkapkan (dia), ‘ dan lihatlah, tampaklah engkau. Aku berkata (pada diriku sendiri), ‘jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’ Maka kau ditunjukkan padaku, malaikat membawamu dengan sehelai kain sutra, dan aku berkata (pada malaikat), ‘Singkapkan (dia), dan lihat, tampaklah engkau. Aku berkata (pada diriku sendiri), ‘jika ini dari Allah, maka ini harus terjadi.’”

    Alasan bahwa perkawinan ini ‘politis’ dapat disangkal dengan mudah. Abu Bakr adalah kawan baik Nabi, dia adalah salah satu pengikutnya dan saudara angkatnya, dia berasal dari suku yang sama dengan Nabi; tidak ada alasan bagi Nabi Allah untuk meniduri anak kecil Abu Bakr untuk mempererat persahabatannya. Bukti menunjukkan bahwa sang Nabi suci mengambil kesempatan dari kesetiaan Abu Bakr dan merusak kepercayaannya pada Nabi sampai ia harus menyerahkan anak gadisnya yang masih kecil untuk dikawini Nabi. Bagaimana engkau dapat menolak permintaan seseorang yang kau percaya sebagai utusan Tuhan?

    Abu Jahl (biangnya ketidakpedulian) adalah nama ejekan yang diberikan pada Adul Hakam (biangnya yang tak terpelajar). Sukar untuk dimengerti dengan cara apa meniduri anak 9 tahun dapat melindungi Nabi dari Abu Jahl? Seperti yang kaukatakan, perkawinan ini terjadi di tahun pertama dan kedua setelah Hijra. Musuh Nabi ada di Mekah. Meskipun jikalau perkawinan itu memang melindungi sang Nabi, meskipun ini tetap tidak masuk akal, dia sebenarnya sudah aman berada di Medinah. Jadi alibi (alasan) ini tidak dapat diterima.

    Pokok masalahnya bukan pada Nabi menikahi anak perempuan Abu Bakr. Tapi masalahnya adalah dia berhubungan seks dengan anak berumur 9 tahun. Jika engkau mengatakan ini untuk melindungi dirinya, maka Nabi adalah seorang oportunis (orang yang ambil kesempatan untuk cari selamat) yang memperkosa anak umur 9 tahun untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Mohon jangan katakan ini bukanlah pemerkosaan karena anak berusia 9 tahun belum cukup dewasa untuk bisa mengambil keputusan (seksual) dan karena itulah ini merupakan pemerkosaan. Pembelaanmu memberatkan sang utusan Allah itu lebih daripada tuduhanku sendiri.

    Kaukatakan pernikahan ini bersifat simbolis. Bagaimana mungkin simbolik jika sang Nabi mendekati Ayesha ketika ia, ini berdasarkan pengakuannya sendiri lho, sedang bermain dengan mainan2nya dan Nabi memberinya mainan yang lain sama sekali yang ‘MENGEJUTKAN’ anak kecil itu?

    Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 90
    Dinyatakan Aisha:
    Ketika sang Nabi menikahiku, ibu datang padaku dan membawaku ke dalam rumah (sang Nabi) dan TIDAK ADA YANG MENGAGETKANKU SELAIN KEDATANGAN SANG NABI ALLAH PADAKU DI PAGI HARI.

    Kau katakan,” .. aturannya seorang pria 53 tahun tidak mungkin punya gairah sexual terhadap anak berusia 9 tahun.” Ini sungguh benar. Inilah hal utama yang kuutarakan. Sayangnya, kita tidak hidup di dunia yang sempurna dan ada beberapa orang yang sakit jiwa dan melawan aturan2. Zaman sekarang pun ada orang2 tua yang berfantasi melakukan hubungan seks dengan anak2 kecil, menyimpan foto2 mereka (anak2 kecil tsb.) dan saling menukar foto2 dengan orang lain yang sama sakit jiwanya di internet. Mereka ini dikenal sebagai fedofilia dan untuk melindungi anak2 kita, kita masukkan orang seperti ini dalam penjara. Jika sang Nabi tidak ‘mengagetkan’ gadis kecil itu di pagi hari yang sama kala ibunya membawanya ke rumah Nabi, maka aku dapat menerimanya sebagai perkawinan “simbolik”, meskipun sebenarnya tidak jelas manfaatnya. Tapi jika kita lihat bahwa sang Nabi Allah meniduri gadis kecil itu di hari yang sama dia dibawa ke rumah Nabi, maka perkawinan ini sukar untuk dipandang sebagai sesuatu yang “simbolik”. Simbol apa?


    5- Ayatollah Montazeri.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi udara mempengaruhi pertumbuhan tubuh dan jiwa para gadis dan pertumbuhan mereka lebih cepat di udara panas.

    Sina:

    Di pokok pembicaraan terdahulu, engkau menjelaskan bahwa perkawinan ini simbolis dan “aturannya seorang pria 53 tahun tidak mungkin punya gairah sexual terhadap anak berusia 9 tahun”. Tapi sekarang engkau membahas masalah ini dari sudut yang berbeda sama sekali.

    Saya yakin gadis2 berusia 9 tahun di Arabia adalah masih sama dengan anak2 kecil berusia 9 tahun. Kecuali engkau memajukan teori evolusi bahwa ras manusia harus menjalani mutasi besar2an selama jangka waktu 1.400 tahun ini dan di zaman dulu para wanita mencapai kedewasaan pada usia 9 tahun, kenyataannya adalah sama bahwa sang Nabi punya nafsu berahi terhadap seorang gadis kecil di bawah umur dan ini adalah salah. Untuk meyakinkan bahwa anak2 berusia 9 tahun adalah tetap anak2, bahkan pula di zaman Nabi, kita tidak perlu melihat jauh2 dari Hadith yang lain yang dikisahkan sendiri oleh Ayesha. Di Hadith berikut, Ayesha mengungkapkan bahwa ia sedang bermain di ayunan ketika ibunya membawanya ke sang Nabi.

    Sunan Abu-Dawud Buku 41, Nomer 4915, juga Nomer 4915 and Nomer 4915
    Dinyatakan Aisha, Ummul Mu'minin:
    Sang Rasul Allah menikahiku ketika aku berusia tujuh atau enam tahun. Ketika kami tiba di Medina, beberapa wanita datang, menurut versi Bishr:Umm Ruman datang padaku ketika saya sedang bermain ayunan. Mereka memandangku, mempersiapkanku, dan mendandaniku. Kemudian aku dibawa ke Rasul Allah, dan ia hidup bersamaku sebagai suami istri ketika aku berusia sembilan tahun. Ia (Umm Ruman) menghentikanku di pintu, dan aku meledak tertawa.

    Dan biasa bermain dengan boneka2nya.

    Sahih Bukhari Volume 8, Buku 73, Nomer 151
    Dinyatakan 'Aisha:
    Aku biasa bermain dengan boneka2 di depan sang Nabi, dan kawan2 perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku. (Bermain dengan boneka2 atau bentuk2 yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) (Fateh-al-Bari halaman 143, Vol.13)

    Sahih Muslim Buku 008, Nomer 3327:
    'A'isha (Allah memberkatinya) melaporkan bahwa Rasul Allah menikahinya ketika ia berusia tujuh tahun, dan ia (Muhammad) membawanya ke rumahnya sebagai pengantin ketika ia berusia sembilan tahun, dan boneka2nya dibawanya, dan ketika ia (Muhammad) mati, ia (A’isha) berusia delapanbelas tahun.

    Dalam aturannya, orang akan berkata jika ia masih bermain dengan boneka2nya, ia belum cukup dewasa untuk mengetahui tentang seks, apalagi dari orang yang cukup tua untuk jadi kakeknya.


    6- Ayatollah Montazeri.

    Perbedaan usia antara pria dan wanita yang dinikahinya di masyarakat primitif dapat diterima dan sering terjadi. Juga bukan merupakan hal yang tak layak atau cabul bagi seorang pria untuk menikahi gadis2 yang sangat muda dan orang2 pada saat itu tidak menganggap itu sebagai hal yang tak bermoral. Bahkan sampai hari ini pun, orang masih menemukan perkawinan dengan gadis 2 yang masih sangat muda diantara masyarakat Arab. Sebagai aturan, sebaiknya jangan dibandingkan kebiasaan masyarakat adat dan primitif dengan kebiasaan masyarakat modern dan maju di saat ini.


    Sina

    Aku setuju bahwa masyarakat primitif punya kebiasaan yang mengejutkan bagi kepekaan masyarakat modern. Orang2 primitif banyak melakukan hal2 yang mengagetkan kita saat ini. Mereka misalnya melakukan pembunuhan korban manusia atau binatang, mempraktekkan diskriminasi berdasarkan perbedaan jenis kelamin, perbudakan dan banyak lagi bentuk pelanggaran hak2 kemanusiaan. Aku tidak mengecam masyarakat primitif sebab mereka tidak tahu hal yang lebih baik. Aku mengutuk masyarakat modern yang mengikuti masyarakat primitif itu dengan melakukan hal yang dilakukan seorang pria yang hanyalah keluaran produk masyarakat primitif. Aku mengutuk orang yang memanggil dirinya sendiri Nabi Allah, “Pengampunan Tuhan pada dunia” “Rahmatu’llah lil Alamin” dan contoh bagi seluruh umat manusia, yang sebaliknya memberi batasan contoh moral dan kebajikan yang mengikuti kebiasaan hidup masyarakat2 primitifnya dan lalu menegaskannya dan mengabadikannya sebagai suatu contoh. Aku mengutuk masyarakat yang lupa keagungan dan kemegahannya di masa lampau dan sekarang mencoba untuk meniru kebiasaan masyarakat primitif dan mau menegakkan ajaran mereka yang purba dengan mengikuti nabinya yang tidak punya ajaran baru apapun untuk masyarakat primitif dan ia sebenarnya hanyalah produk dari masyarakat primitif itu.

    Iya, memang kita harus membandingkan kebiasaan2 masyarakat dan suku primitf dengan kebiasaan masyarakat modern dan maju saat ini. Tapi kenapa kita harus mencontoh mereka? Kenapa kita harus mengikuti mereka? Kenapa kita harus menerima nabi mereka yang tidak mampu melepaskan diri dari sifat2 primitif, barbar, dan buas?

    Jika sang Nabi benar2 seorang nabi, maka dia akan bertindak berbeda. Ia tidak akan mengikuti kebiasaan2 masyarakat primitf tapi akan menegakkan standard baru. Jika ia mengikuti kebiasaan masyarakat primitifnya, kenapa kita harus mengikuti dia? Orang2 Muslim seluruh dunia mempelajari kehidupan sang Nabi secara terperinci, mencoba menirunya dalam segala hal yang dilakukannya. Mereka berpakaian seperti dia, mengatur janggutnya seperti dia, jalan seperti dia, dan bicara seperti dia, melakukan apa yang dia lakukan dan hidup seperti cara dia hidup. Mereka percaya segala yang dilakukannya direstui Tuhan dan dia dikirim untuk menjadi contoh bagi kaum manusia. Tapi meskipun begitu, engkau baru saja tadi mengatakan bahwa yang dilakukannya tidak mengindahkan aturan dan kebiasaan masyarakat primitif dan kita harus mengampuni dosanya karena dia hanyalah korban dari masyarakat primitif itu. Betapa malangnya kita yang belum melihat hal ini. Lihatlah apa yang telah menimpa negara kita yang besar (Iran) yang telah melupakan masa lalunya yang agung dan sekarang secara buta mengikuti orang yang meniru kebiasaan2 masyarakatnya yang primitif. Dapatkah kita terjeblos lebih dalam lagi dari ini? Adakah penghinaan yang lebih parah daripada ini?


    7- Ayatollah Montazeri

    Masalah2 di tiap waktu dan tempat harus dilihat sesuai dengan standard2 waktu dan tempat saat itu sendiri dan tidak dengan standard di lain waktu dan tempat. Di lain pihak kita menemukan bahwa sang Nabi tidak melawan banyak kebiasaan pada zamannya yang tidak jauh berbeda dengan tujuan2 pendidikan dan spiritual Islam. Ia menghadapinya secara bertahap dan praktis untuk mengubah mereka pelan2.


    Sina

    Aku setuju masalah2 harus dilihat dari konteks waktu dan tempatnya saat itu. Sesuatu yang bisa diterima 1.400 tahun yang lalu di Arabia mungkin tidak tampak baik saat ini. Mungkin kita sebaiknya tidak menghakimi mereka secara keras. Tapi pertanyaannya adalah mengapa kita harus mengikuti mereka? Pemecahan masalah yang layak saat itu ternyata tidak layak lagi bagi waktu kita saat ini. Kenapa mengikuti doktrin yang sudah kehilangan gunanya dan ditancapkan dalam sejarah?

    Orang2 Muslim dinasehati untuk mengikuti Sunnah Nabi. Kau bilang bahwa sang Nabi adalah orang Arab, mengikuti tradisi masyarakatnya sendiri, sehingga yang dilakukannya adalah benar pada konteks itu. Tapi dengan mengikuti dia, tidakkah kita mengabadikan kebiasaan2 orang2 Arab 1.400 tahun yang lalu yang tidak cocok dan sudah ketinggalan zaman?

    Engkau menegaskan bahwa sang Nabi tidak melawan kebiasaan2 jelek itu dan kebiasaan2 itu tidak jauh berbeda dari tujuan2 spiritual dan pendidikan Islam. Maka pertanyaanku adalah apakah tujuan2 spiritual dan pendidikan Islam? Apakah tujuan utama Islam itu sendiri? Jawaban orang Muslim tentunya adalah untuk mengetahui bahwa Tuhan itu satu dan dia tidak punya partner dan Muhammad adalah RasulNya. Ini adalah hal yang paling diutamakan dalam Islam. Masalah2 moral dan etika jadi adalah masalah kedua. Semua dosa dapat diampuni. Pencurian, pembunuhan, dan fedofilia dapat diampuni tapi menggandakan Tuhan itu tidak.

    “Allah tidak mengampuni penggandaan allah2 lain denganNya, tapi Ia memaafkan yang segala (dosa) lainnya, pada siapa Ia berkenan, menggandakan allah2 lain dengan Allah berarti sungguh melakukan dosa yang Paling besar.” (Q.4: 48 ).

    Dalam perkataan lain, Saddam Hussein, Idi Amin, Ben Laden, Khalkhali dan Khomeini akan diampuni biarpun dosanya besar sekali karena mereka adalah Muslim dan tidak menggandakan Tuhan tapi Gandhi, yang beragama Hindu dan kaum Muslim percaya bahwa Hindu punya banyak dewa, akan dibakar selamanya di neraka.

    Kalau begitu, Allah ini tentunya sinting. Ia adalah makhluk yang sinting dan begitu menderita sehingga sangat ingin dikenal oleh ciptaan2Nya dan sangatlah pencemburu. Jika ini tuhannya Muhammad, maka ia tidak layak dipuja tapi perlu segera dikunci di rumah sakit jiwa.

    Tentang kebiasaan buruk orang2 yang tidak dilawan secara langsung oleh sang Nabi suci tapi berusaha mengubah mereka pelan, apakah mereka itu? Di dunia kami, fedofilia itu adalah tindak kejahatan. Sungguh memalukan bahwa Nabi tidak memandang kasus fedofilia sebagai suatu kasus yang sangat penting dan harus segera ditangani karena fedofilia ini tidak bertentangan dengan tujuan2 spiritual Islam. Tapi aku sebenarnya akan senang kalau melihat Nabi setidaknya menentangnya. Tapi tidak, ia tidak menentangnya sama sekali. Ia malah mendukungnya dengan membuat dirinya sebagai contoh. Ini bukanlah cara untuk “mengubah” sesuatu. Inilah cara untuk menegaskannya, untuk mengabadikannya dan untuk mempromosikannya.

    Sebelum Islam, kami bangsa Iran adalah masyarakat yang berbudaya. Kami tidak memiliki kebiasaan2 dan tradisi2 barbar ini. Terima kasih atas jasa Islam tradisi2 memalukan ini merambat dalam budaya kita dan dipraktekan di tanah air kita.

    Fedofilia adalah satu dari pemberian2 Islam pada kita. Sang Nabi suci menyokong banyak tradisi2 yang sama memuakannya. Pembunuhan pada musuh adalah hal yang biasa sekarang di negara kita dan ini juga adalah tradisi sang Nabi. Dia terbiasa mengirim pembunuh2 ke rumah2 musuhnya dan membunuh mereka kala mereka tidur. Anggota2 terhormat Rezim Islam Iran sekarang mengikuti tradisi utusan Tuhan ini (semoga damai berserta hatinya yang suci murni tak ternoda).

     
  • At October 22, 2007, Anonymous Anonymous said…

    Shalom,

    Walid Shoebat adalah seorang Palestina. Bahkan ia menyebut dirinya adalah mantan teroris Palestina yang memerangi Zionisme. Kesaksian Walid Shoebat dari seorang teroris menjadi pengikut Kristus sangat menarik.

    Silahkan ikuti di sini.
    http://www.youtube.com/watch?v=AYFuxwhwOUA

     

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home

 
Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas roh Allahyarham Hani Mohsin Hanafi.AL-FATIHAH...